Artikel No. 21-25

21. Belajar Sulap

Pernah menyaksikan sulap? Saya yakin pernah. Komentar yang muncul beragam. Banyak yang terkesima, takjub, berdecak kagum dan bertepuk tangan. Tapi ada pula yang hanya berujar: “Ah... itu ‘kan hanya trik?”

Tak masalah apa komentar Anda karena bukan trik sulap yang akan diulas di sini. Penulis akan cerita sedikit tentang sesuatu di balik sulap.

Sebagai magicmania, penulis terpesona pada sulap sejak kecil (SD). Hanya tahun 1990-an berkesempatan belajar lagi beberapa trik sulap sederhana.

Salut sekali kepada para “ahli” yang menciptakan trik sulap. Cara pikir mereka luar biasa. Pola pikir mereka tidak biasa. Apa yang bagi orang awam tidak mungkin, bagi pesulap itu suatu tantangan yang harus dipecahkan dan menjadikannya suatu hal yang mungkin. Inilah yang menarik minat penulis belajar sulap.

Bagi orang awam, jawaban yang sering terlontar ketika melihat sulap adalah “Pasti pakai bantuan jin.” Sekedar info untuk Anda, sulap adalah trik.

Pelajaran: “Everything is possible in magic”


***********

22. Mari Belajar

Hidup ini adalah proses belajar tanpa henti. Selama hidup, kita terus belajar. Baik secara formal di sekolah, membaca buku, maupun “membaca” segala sesuatu di sekitar kita.

Mempelajari capung, terciptalah helikopter, terinspirasi ikan, manusia menciptakan kapal selam. Kita belajar sifat rendah hati pada padi, yang makin berisi makin merunduk. Kita berguru pada teratai yang teguh pendiriannya, meski tumbuh di tempat berlumpur, bunganya tetap bersih.

Belajarlah seperti motto soft drink di masa dulu (kapan saja, siapa saja, dan di mana saja). Bahkan ditambah apa saja. Kita bisa belajar dari apa pun di dunia ini. Dari suatu hal yang baik (misal anjing yang terkenal kesetiaannya), kita teladani sifat baiknya. Dari yang buruk? Kita berusaha agar keburukan itu tidak menjangkiti kita.

Kita bisa belajar dari pengalaman sendiri, pengalaman orang, belajar dari tumbuhan, hewan, dan benda yang ada di sekitar kita.

Pelajaran: Alam dan lingkungan sekitar kita adalah buku yang mahabesar.


***********

23. Cegah Penipuan

Sudah lama penulis membaca dan melihat berita tentang penipuan SMS berhadiah. Penulis pun pernah menulis ke Surat Pembaca ke media (sayangnya tidak dimuat).

Penipu mengirim SMS bahwa Anda mendapat hadiah mobil, tapi Anda harus mentransfer pajak hadiah sekian juta rupiah. Modusnya sama, tapi masih saja ada yang tertipu.

Bagi penulis, solusinya sederhana. Tiap penyelenggara undian berhadiah harus minta izin depsos. Mengapa tak diberlakukan peraturan: Semua pajak undian HARUS ditanggung penyelenggara. Pemenang tidak dibebankan biaya apa pun.

Bila beri hadiah mobil dan pajak ditanggung pemenang, mengapa hadiah tidak diganti motor dan pajak ditanggung penyelenggara?

Tinggal ketentuan ini disosialisasikan lewat media. “Semua pajak undian ditanggung penyelenggara. Bila Anda menang, tak akan dikenakan biaya apa pun.”

Jadi, kalau Anda diberitahu menang undian dan Anda diminta bayar ini itu, pastilah penipuan.

Pelajaran: Apa yang kita pikirkan, belum tentu terpikirkan oleh orang lain?


***********

24. Belakang Layar

Teman SMA penulis pernah ngedumel, “Kok foto saya tidak ada yang bagus ya?” Dia mengeluh melihat hasil cetak 1 rol fotonya, hasil jepretan kakaknya dengan kamera saku. Foto-foto itu akan ditempel pada buku kenangan teman-temannya menjelang perpisahan sekolah.

Dia bilang jelek karena membandingkan fotonya dengan foto model di cover dan di halaman isi majalah remaja.

Umumnya kita “iri” karena hanya tahu sesuatu yang muncul di permukaan saja. Kita tidak tahu apa yang terjadi di belakang layar (sesuatu di balik itu semua).

Penulis mencari tahu tentang hal ini. Ini faktanya: foto model memang sudah oke dari awalnya (mereka memang tampan atau cantik). Mereka di-make up, diberi pakaian yang pas, diberi arahan gaya, difoto oleh fotografer yang ahli, dengan kamera canggih. Yang muncul di majalah sekitar 1-5 foto, itu hasil puluhan bahkan mungkin ratusan kali jepret. Jelas ini tak sebanding.

Pelajaran: Jangan hanya lihat tampilan luar, lihatlah apa yang terjadi di belakang layar.


***********

25. Ayo Ehipassiko

“Kalau malam hari tidak berbintang, itu artinya hujan akan segera turun. Kalau ada bintang, tidak akan hujan” begitu kata Papa.

Memang berdasarkan data ini (melihat keberadaan bintang), prediksi hujan atau tidak, banyak yang tepat. Apa yang terlintas di benak penulis? Wow... bintang sungguh ajaib. Bintang bisa mengusir hujan (bintang jadi kayak pawang hujan ya?)

Seiring berjalannya waktu, pemikiran penulis juga makin berkembang. Penulis menemukan fakta bahwa, bukan ada tidaknya bintang yang menyebabkan hujan. Setiap hari (khususnya pada malam hari), bintang selalu ada.

Jadi mengapa kadang ada (baca: terlihat) dan kadang tidak ada (baca: tidak terlihat)? Eureka! Ternyata itu disebabkan oleh awan. Kalau langit dipenuhi awan, bintangnya tertutup. Jadi sebenarnya cuaca malam itu berawan. Inilah yang bisa menyebabkan hujan. Bukan oleh kehadiran bintang. Setiap hari ada bintang, hanya kadang tampak, kadang tidak.

Pelajaran: Sang Buddha mengajarkan ehipassiko, teliti dan buktikan.

0 Responses

Poskan Komentar

abcs