Artikel No. 46-50

46. Isi Kepala

Berdiri di kereta api antara Jakarta-Bandung? Tentu capek dong. Dulu, kalau dapat tiket berdiri, penulis punya ada 3 pilihan: duduk lesehan di gerbong kereta makan (restorasi) yang luar biasa panas karena tanpa jendela, duduk lesehan di sambungan kereta plus aroma toilet, atau berdiri saja di gerbong. Tak ada yang nyaman ya?

Pernah sekali penulis didekati orang tua (kuli angkut barang) di stasiun Gambir. “Pak, mau tempat duduk?” Karena kasihan sama orang tua (juga kebetulan tidak dapat tempat duduk), “Boleh” jawab penulis. “Ayo ikut saya. Nanti kasih Rp5.000 saja” kata bapak itu. Lumayanlah Jakarta-Bandung dapat duduk, cuma tambah Rp 5.000, pikir penulis.

Memang benar, sampai kereta berjalan pun, penulis bisa duduk nyaman di sana (tak ada klaim dari orang lain). Tapi tahukah Anda, tempat duduk itu ternyata jatah untuk Jatinegara? Begitu stop di Jatinegara, penulis harus berdiri lagi karena ada yang lebih berhak duduk di sana!

Pelajaran: Memang sukar menebak isi kepala seseorang.


***********

47. Teladan Korea

Penulis membawa magic com ke dealer YM (produk Korea) untuk mengganti bagian magic com yang sudah jelek. Magic com-nya sendiri masih berfungsi dengan baik.

Penulis disodori daftar harga spare part magic com tersebut. “Mana saja yang mau diganti Pak?” tanya teknisinya. Penulis menyebutkan satu persatu, lalu mulailah teknisi itu menggantinya.

Sambil menunggu, penulis melihat-lihat dinding ruangan yang memajang surat izin usaha, kalender, dan sebuah pengumuman. Pengumuman ini yang menarik perhatian penulis. Isinya kurang lebih: “Petugas kami dilarang menerima uang apa pun dari customer selain harga spare part yang diganti.” Wow... benarkah ini? Sering kita temui tulisan serupa: Jangan melalui calo. Faktanya? Jalur resminya buat kita putus asa.

Waktu bayar, penulis sengaja memberi lebih. “Pak ini uang rokoknya.” “Tak usah Pak, hanya uang spare part saja.” Penulis bilang “Tidak apa Pak.” Teknisi itu tetap tidak mau menerima!

Pelajaran: Kapan ya kita bisa begini, teori = kenyataan?


***********

48. Email Gaya

Waktu pertama tahu internet, penulis kagum sekali dengan teman yang punya alamat email. Saat itu terbayang, wah... pasti dia punya uang banyak hingga bisa punya alamat email. Ehm... lucu juga ya?

Tapi setelah cari tahu, ternyata untuk punya email tidak perlu uang banyak. Tidak harus punya komputer sendiri di rumah atau harus berlangganan internet. Cukup Rp 5.000 (saat itu rental internet Rp 5.000/jam). Dengan uang Rp 5.000 kita bisa ke warnet dan buat alamat email sebanyak yang kita mau, gratis! Wow...

Bagi penulis, punya email, bukan untuk gaya dan dibilang tidak ketinggalan jaman. Kemajuan teknologi ini dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kebaikan. Komunikasi jadi lebih cepat, hemat, dan praktis.

Ternyata, punya email sekedar untuk gaya memang terjadi. Penulis pernah mengirimkan email ke 2 perusahaan besar (perusahaan swalayan dan industri hiburan anak). Dua kali kirim email, tak ada satu pun yang ditanggapi.

Pelajaran: Buat apa punya email kalau hanya sekedar untuk pajangan?


***********

49. Makanan Aman

Pernah melihat liputan investigasi di TV swasta? Di sana ada laporan hasil investigasi tentang berbagai jenis makanan. Makanan atau jajanan yang bisa kita temui setiap hari, ternyata tak layak konsumsi. Ada ayam tiren (mati kemaren) alias ayam sudah mati baru dipotong dan dijual. Ada daging sapi glonggongan (sapi yang dipaksa minum air agar dagingnya jadi lebih berat). Baso dengan pengawet mayat (formalin), cendol dengan campuran bedak supaya kenyal, ayam buangan rumah makan yang digoreng lagi, gorengan dengan tambahan plastik supaya renyah, dan masih banyak lagi.

Hmm... jadi apa yang layak dikonsumsi? Tahu, ikan asin, asinan, dan yang lain ternyata menggunakan pewarna tekstil dan pengawet tak layak untuk makanan (formalin dan boraks). Pernah juga baso dari daging tikus.

Memang sih... dalam jangka pendek, seolah tak ada efeknya bagi kesehatan. Tapi dalam jangka panjang, timbunan “racun tadi” akan mengakibatkan kanker.

Pelajaran: Kita harus lebih selektif dalam memilih makanan.


***********

50. Parkir Gratis

Mana tempat berbelanja yang Anda pilih? Jawaban yang muncul kemungkinan bervariasi. Ada yang pilih tempat yang harganya murah, tempatnya strategis (dekat rumah atau kantor), pelayanannya bagus, dan masih banyak lagi.

Bagi penulis, harga barang di pasar swalayan relatif sama. Tidak ada satu swalayan yang harganya murah untuk semua produk. Yang dipajang di brosur atau di spanduk biasanya memang lebih murah, tapi yang lain belum tentu. Jadi plus minus alias sama saja. Salah satu pilihan penulis selain yang tertulis di atas adalah parkir-nya gratis.

Sayangnya, tak banyak pengusaha yang memperhatikan fasilitas/ layanan ini. Banyak yang membiarkan lahan milik mereka diambil alih “tukang parkir”, padahal tak sepeser pun uang parkir masuk ke kas mereka. Pengusaha hanya perlu pasang tulisan “Parkir Gratis.”

Coba bandingkan, sebuah SPBU menghabiskan jutaan rupiah membangun banyak toilet, hanya demi pelayanan kepada konsumennya.

Pelajaran: Kurang jeli memnfaatkan fasilitas yang ada.


0 Responses

Poskan Komentar

abcs