Artikel No. 41-45

41. Buddha Bar

Umat Buddha berdemo meminta agar Buddha Bar ditutup karena itu melecehkan Buddhis. Tempat yang bernuansa negatif (setidaknya ada minuman keras, yang dilarang agama apa pun), dengan dekor simbol agama, rasanya tidak pantas memakai nama berunsur agama.

Dalam konteks agama Buddha, persoalan ini jadi lebih kompleks. Buddha bukan hanya sekedar nama sebuah agama, tapi juga nama pendiri (Guru Agung) yang disucikan. Ibarat Islam dengan Allah, atau umat Kristiani dengan Yesus.

Ada yang khawatir, bila tidak ditutup nanti akan muncul Islam Bar, Kristen Bar, Katolik Bar, Hindu Bar. Menurut penulis bukan itu, tapi Allah Bar, Yesus Bar, dan sejenisnya. Bisa Anda bayangkan kalau hal itu terjadi. Apakah tidak akan mengoyak kerukunan umat beragama di tanah air tercinta?

Seyogyanya, semua pihak (pemilik, pemerintah,...) menyadari hal ini. Prinsipnya sederhana saja, “Kalau tak ingin mencubit, jangan mencubit.” Semoga masalah ini cepat selesai.

Pelajaran: Umat mana pun tak ingin hatinya dilukai.


***********

42. Koleksi Penulis

Didikan dari keluarga agar tidak boros (belanja barang ataupun pemanfaatan barang yang sudah ada) tertanam di dalam benak penulis sampai sekarang. Dus bekas susu, kaleng bekas biskuit, kantong plastik, dan kertas pembungkus belanjaan lain yang sekiranya masih bisa bermanfaat, akan penulis simpan.

Hal ini yang sering dikeluhkan istri. Penulis bisa maklum juga sih... (jadi simpanan barang bekas menyita ruang di rumah kami yang sempit). Tapi ya... gimana lagi? Ada perasaan bersalah bila membuang sesuatu yang penulis rasa masih bisa dimanfaatkan, meski banyak yang belum dimanfaatkan saat itu.

Dus bekas susu sering dipakai untuk bungkus kado saat ada yang ultah, kaleng biskuit untuk wadah mainan kecil (mobilan atau robot kecil agar tak tercecer), botol plastik bekas air mineral dipakai untuk mengisi cairan pembersih lantai, dan sejenisnya. Kertas kado bekas pun (bila dibuka dengan hati-hati) masih bisa dimanfaatkan.

Pelajaran: Hemat untuk saku, juga menghemat sumber daya alam.


***********

43. Manfaat Koleksi

Masih berkaitan dengan koleksi “unik” penulis. Kalau ada barang elektronik atau mainan rusak yang sudah tak dapat diperbaiki, sebelum dibuang, pasti penulis preteli (bongkar dan ambil yang masih bisa dimanfaatkan). Yang paling sering jadi “koleksi” penulis adalah aneka baut dan mur. Juga klep elpiji. Setiap gas habis, sebelum beli isi (tukar tabung kosong dengan yang isi), klep pengamannya pasti penulis ambil. Ini untuk stok, bila suatu saat penulis butuh.

Benar saja, saat pasang slang regulator ke tabung elpiji, kadang terdengar bunyi dan tercium bau gas. Artinya pemasangan tidak pas atau klep-nya kurang bagus sehingga bocor. Sudah coba dibuka lalu dipasang lagi, hasilnya tetap sama. Itu artinya klep harus diganti. Untunglah penulis punya stok.

Juga saat pegangan penggorengan rusak, baut dan mur di helm hilang. Tidak usah beli ke toko besi. Penulis punya stok baut dan mur aneka ukuran. Tinggal cari mana yang paling pas.

Pelajaran: Barang kecil pun bisa punya peran besar.


***********

44. Ganti Nomor

Sekarang, telpon selular atau lebih dikenal dengan sebutan HP (Hand Phone), sudah jadi “kebutuhan”. Entah memang benar-benar sebuah “kebutuhan” atau sekedar ikut tren gaya hidup.

Di tempat penulis, penjual jamu keliling, tukang becak, penjual baso, dan nasi goreng pun memiliki HP. Bahkan tidak jarang HP mereka lebih canggih daripada HP penulis.

Karena persaingan, harga perdana jadi sangat murah (bahkan gratis) dan tarif telpon jadi murah. Konsumen bebas memilih.

Akibatnya, banyak yang hobby berganti nomor HP. Tambah nomor baru tentu tidak masalah, tapi selalu berganti nomor, ini yang bermasalah. Ketika relasi bisnis menghubungi Anda, Anda tak dapat dihubungi karena nomor lama Anda sudah tidak aktif. Itu artinya peluang bisnis lewat begitu saja.

Penulis sering sekali kehilangan kontak dengan teman karena mereka ganti nomor tanpa memberitahu. Sekedar info, sejak pertama punya HP (hampir 10 tahun lalu), penulis tidak pernah berganti nomor HP.

Pelajaran: Ganti nomor = hilang kontak.


***********

45. Ide Kreatif

Ada saja ide kreatif orang untuk bertahan hidup. Saat bekerja di Jakarta, penulis mencatat ide-ide kreatif manusia metropolitan ini. Ini salah satunya.

Money changer adalah tempat menukarkan valuta asing (mata uang yang berbeda). Tapi di Jakarta (tepatnya di sekitar terminal), ada personal money changer rupiah tukar rupiah. Orang kreatif ini mengumpulkan uang logam seratusan, lalu dibungkus dengan plastik. Isi tiap plastik Rp 900, dan bila kernet angkot/ bis kota butuh uang receh, uang kertas Rp 1.000 akan ditukar dengan uang logam Rp 900. Personal money changer ini pun mendapat nafkah dari selisih kurs rupiah kertas ke logam.

Selasa (10-02-2009), penulis menemukan orang Bandung kreatif. Dari satu toko ke toko lain, ia menanyakan apakah ada uang jelek (uang kertas yang sudah sangat kumal dan tidak utuh) sambil menunjukkan uang jelek di tangannya. Berapa kurs-nya? Sangat tergantung “parah” tidaknya uang Anda.

Pelajaran: Bagi orang kreatif, selalu ada jalan untuk bertahan hidup.


0 Responses

Poskan Komentar

abcs