Artikel No. 31-35

31. Jadi Artis

Kadang susah membedakan antara sayang atau terlalu memanjakan anak. Dan nampaknya Dhika, putra sulung penulis, tahu kelemahan kami (penulis & istri). Kalau minta sesuatu dengan agak ngotot, biasanya kami kalah. Permintaannya (jajan makanan, mainan, atau ke arena bermain) akhirnya kami penuhi. Tiap kami ajak ke swalayan, hampir selalu pulang bawa mainan baru.

Akhirnya penulis membuat peraturan. Setiap hari, bila Dhika baik (sekolah tidak rewel, tidak mengganggu Ray, adiknya), maka Dhika akan mendapatkan 1 tanda tangan Papa (kayak jadi artis ya?). Kalau Dhika kurang baik, tidak dapat tanda tangan. Setelah kolom tanda tangan penuh (30 buah) barulah Dhika boleh membeli mainan baru.

Sejauh ini, lumayan efektif. Bila baik, Dhika dapat “hadiah” (tanda tangan), bila kurang baik dia dapat “hukuman” (tidak dapat tanda tangan yang artinya waktu untuk membeli mainan jadi lebih lama).

Pelajaran: Sejak kecil anak dilatih untuk mengetahui bahwa segala tingkah lakunya, ada konsekuensinya.


***********

32. Tukang Martabak

Di kompleks perumahan tempat penulis tinggal, sekarang sedang dilakukan perbaikan jalan. Memang sudah sejak lama jalan di dalam kompleks ini berlubang-lubang. Kalau hujan turun, banyak genangan air.

Cuma anehnya, perbaikan jalan hanya menggunakan batu/ split, dan pasir (lebih tepatnya pasir campur tanah). Tanpa sedikitpun aspal! Caranya: taburkan batu-batu di lubang jalan, di atasnya taburkan dengan tanah. Setelah itu digilas dengan stoom, kendaraan berat untuk meratakan jalan.

Bagaimana mungkin perbaikan jalan tanpa pakai aspal atau semen? Apa pemborong perbaikan jalan ini mantan tukang martabak, bukan tukang insinyur? Dia pikir jalan di kompleks ini adonan martabak yang sudah hampir matang, tinggal taburi dengan kacang dan gula pasir?

Bisa ditebak, kalau musim hujan, luar biasa becek. Anda tinggal bawa kangkung, irisan kol, kacang panjang yang direbus, sepanjang jalan penuh dengan bumbu gado-gado.

Pelajaran: Kata guru Ekonomi SMP saya: “The Right Man on The Right Place”


***********

33. Tukang Roti

Masih tentang perbaikan jalan di kompleks. Entah karena protes warga atau hal lain, akhirnya ada perbaikan tahap kedua. Dari persiapan yang dilakukan, tampaknya ada perbaikan cara kerja. Sekarang sudah tampak drum berisi aspal.

Waktu perbaikan dilakukan, o...o... ternyata bukan seperti yang diharapkan. Inilah cara perbaikannya. Batu/ split ditabur di sepanjang jalan, lalu digilas dengan stoom sampai rata (untuk meratakan jalan yang berlubang setelah hujan). Kemudian taburi dengan aspal yang telah dipanaskan/ dicairkan, di atasnya ditaburi pasir lalu digilas lagi dengan stoom sampai rata.

Lumayanlah ada sedikit perbaikan, setidaknya sekarang ada “lem”-nya yakni aspal. Bedanya kalau perbaikan pertama seperti membuat tukang martabak, sekarang seperti tukang roti. Taburan (tepatnya siraman aspal) ibarat susu kental manis, taburan pasir (mungkin ini ibarat meses/ butiran coklat-nya) agar tidak mudah terlepas dari roti.

Pelajaran: “The Right Man on The Right Place” bagian ke-2.


***********

34. Cepat Bosan

“Pa, Dhika mau piara anjing. Tadi di sekolah, Dhika lihat anjing, lucu sekali. Boleh ya?” “Tidak boleh” jawab penulis. Sejauh ini Dhika maklum. Why? Inilah kisahnya...

Waktu kecil, penulis pernah merengek minta dibelikan sepasang kelinci pada mama. Penulis janji akan rajin mengurusnya. Awalnya penulis rajin mencarikan makanan untuk kelinci itu. Setiap hari pergi ke pasar mengumpulkan daun kol tua yang dibuang pedagang sayur untuk makanan kelinci.

Lama-lama penulis bosan. Kelinci pun jadi tak terawat. Mama-lah yang menggantikan tugas penulis bila belanja ke pasar. Tapi itu tak bisa sepenuhnya mama lakukan karena banyak tugas lain menanti. Hingga suatu saat, sepasang kelinci putih itu mati kelaparan. Lebih parah lagi, kelinci betina mati dalam kondisi mengandung anaknya!

Sejak saat itu, penulis berjanji tidak akan pernah memelihara hewan apa pun. Takut nanti bosan lagi dan hewan itu tak terawat dan mati kelaparan.

Pelajaran: Jangan korbankan makhluk lain demi kesenangan kita.


***********

35. Inilah Jakarta

Ini kejadian waktu penulis kerja di Jakarta. Penulis dibonceng sepupu dengan motor. Di daerah Grogol, motor kami ditabrak mobil Jeep dari belakang. Lampu belakang motor rusak, tangan penulis luka gores karena berpegangan pada bagian belakang motor. Ributlah saudara sepupu saya dengan penabrak dan minta ganti rugi. Tapi yang menabrak sepertinya ngotot dan nggak mau mengganti kerusakan motor kami.

Seorang pemuda (perkiraan penulis, dia adalah preman) mendekati penulis. “Pak, mari saya bantu. Biar saya yang ngomong ke orang itu. Bapak mau minta ganti berapa?” Penulis bilang, “Nggak usah Pak. Saudara saya masih berunding. Mudah-mudahan mereka bisa damai.” Pemuda itu pun berlalu, tapi tetap memantau perkembangan.

Anda tentu tahu maksud “preman” ini. Kami minta Rp 100.000, dia bisa bilang Rp 200.000 ke penabrak lalu ngomong “Yang Anda tabrak ini saudara saya.” Tak ada yang gratis di Jakarta.

Pelajaran: Inilah Jakarta, apa pun bisa dijadikan peluang untuk mendapatkan uang!


0 Responses

Poskan Komentar

abcs