Artikel No. 06-10

06. Kisah Kerbau

Bhante Paññavaro menceritakan kisah kerbau yang diam saja ketika diganggu segerombolan kera pada “The Grand Launching Bodhi Comic & CD” Sabtu (09-08-2008) di Plaza Sentral, Jakarta. Mengapa kerbau ini sabar sekali? Diganggu tapi tidak marah. Apa jawab kerbau tadi? Biarkanlah mereka mengganggu saya, daripada mereka mengganggu harimau mereka bisa mati diterkam.

Ternyata sikap kerbau yang memilih diam ini ibarat pisau bermata dua. Sebagai Buddhis, kita yakin, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik. Diam dan tidak membalas, berarti kita tidak membuat karma buruk yang baru. Di sisi lain, tindakan ini juga menyelamatkan kera. Ya, biarlah kera mengganggu saya. Kalau mengganggu harimau, dia bisa mati diterkam. Tapi diamnya kerbau ini, sekaligus juga sebuah pelajaran tersembunyi. Bukan mustahil, suatu saat kera usil ini pun akan mengganggu harimau. Saat itu pula kera akan merasakan akibatnya.

Pelajaran: Mungkin tepat bila ini yang dinamakan mengalah untuk menang.


***********

07. Kesempatan Emas

Pada kesempatan yang sama, Andrie Wongso, sang motivator No. 1 di Indonesia berbagi kisah. Suatu saat, beliau sedang berada di daerah Roxy (Jakarta). Sebuah truk mundur, dan tidak sengaja menabrak gerobak baso di belakangnya. Kaca dan mangkok baso pecah berantakan, kuahnya tumpah. Intinya pedagang baso rugi besar. Sopir dan pedagang baso terlibat pertengkaran.

Sebuah bencana terjadi di depan beliau. Apa yang terlintas di benaknya? Buddha mengajarkan kita berdana sebagai sarana untuk mengurangi kemelekatan. Teori sudah didapat, kesempatan praktik ada di depan mata. Mengapa harus dilepas?

Beliau tidak kenal tukang baso, beliau juga tidak kenal sopir truk. Tanya berapa kerugian, berikan jumlah uang itu kepada tukang baso. Perkelahian terhindarkan dan ada rasa bahagia bisa melakukan suatu kebaikan. Kalau Anda menunggu dan berharap, gerobak baso tertabrak truk. Kapan peristiwa itu akan terjadi di depan Anda?

Pelajaran: Jangan sia-siakan kesempatan emas berbuat baik yang datang.


***********

08. Semua Anicca

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, sekarang penulis sudah berstatus sebagai ayah 2 putra. Dalam keseharian, penulis masih sering merasa muda (he...3x malah masih merasa ABG). Untuk ngobrol sih... tampaknya tidak terlalu masalah. Masih bisa nyambung dengan anak muda.

Tapi kondisi tubuh, sudah memberikan tanda-tanda “lapuk” dimakan usia. Kalau dulu (masa sekolah), begadang dan kurang tidur beberapa hari berturut-turut tidak masalah. Paling-paling terasa ngantuk, tapi badan masih fit dan bisa beraktivitas seperti biasa.

Sekarang? Kalau kurang tidur, badan mulai bermasalah. Badan langsung jadi tidak fit (bila dipaksakan begadang lagi, akan jatuh sakit). Terpaksa harus istirahat lebih awal dan di-dopping dengan tablet vitamin C atau suplemen lainnya.

Penulis diingatkan kembali bahwa pada hakekatnya, segala yang ada di dunia ini tidak ada yang kekal. Semua akan lapuk termakan usia.

Pelajaran: Seperti sabda Sang Buddha, “Semua yang berkondisi tidaklah kekal (anicca).”


***********

09. Tumimbal Lahir

Ketika seorang anak pandai menggambar, dan ternyata ortunya memang pelukis, tentulah kita akan berujar “Oh... bakat ini menurun dari ortunya.”

Pun kalau bakat anak bukan menggambar, tapi suasana menunjang (ortunya sering melukis di rumah, pensil, kertas, dan alat gambar lain tersedia), anak ini terkondisikan untuk menggambar. Karena dibimbing ortu yang pelukis, maka ia akan pandai menggambar.

Bagaimana kalau bisa melakukan sesuatu tanpa proses belajar dulu? Ini yang penulis alami. Saat kelas 5 SD, secara tiba-tiba saja penulis bisa membuat tulisan huruf sambung terbalik (ini huruf cermin, bisa dibaca dari bagian belakang kertas atau diletakkan di depan cermin).

Hal ini bisa penulis lakukan langsung, tanpa proses belajar (misalnya melihat tulisan biasa di depan cermin). Selain itu, penulis juga mampu menulis berbagai variasi huruf terbalik. Dari mana kemampuan seperti ini?

Pelajaran: Bagi penulis, ini berkaitan dengan “peninggalan kelahiran sebelumnya” atau tumimbal lahir.


***********

10. Positif Negatif

Setiap hal yang ada di dunia ini selalu saja ada pro kontra. Pandangan yang secara umum dianggap baik pun masih sering ada pro kontra, apalagi hal-hal yang menjurus pada hal yang buruk.

Segala hal, memang bisa dipandang dari sisi yang berbeda. Ibarat mata uang dengan dua sisi yang berbeda.

Penulis contohkan, Anda mengalami penipuan. Niat Anda baik, menuliskan pengalaman Anda tersebut ke media, dengan harapan agar orang lain tidak mengalami hal sama. Pembaca bisa belajar dari pengalaman Anda. Suatu tindakan yang baik ‘kan?

Tapi tahukah Anda, di mata pelaku kriminal, cerita Anda itu bisa jadi inspirasi bagi mereka untuk melakukan penipuan dengan modus sama? Lantas, apakah salah bila Anda menceritakan pengalaman Anda ke media?

Oh... tentu saja tidak. Yang terpenting adalah niat Anda baik. Kalau cerita Anda disalahgunakan, itu hanya dampak samping negatif yang memang sulit dihindari.

Pelajaran: Berpikir bijak, selama dampak baik lebih banyak daripada dampak buruk, lakukan saja.

0 Responses

Poskan Komentar

abcs