Malu Bertanya, Sesak di Dada

Ini pengalaman penulis yang kurang menyenangkan. Minggu pagi penulis dan istri sedang jalan-jalan di lapangan dekat kediaman penulis. Yang berolah raga pagi atau sekedar jalan santai cukup banyak, yang jualan juga banyak. Dari makanan untuk sarapan pagi, lauk matang, sayur mentah, ikan hias, pakaian, VCD, peralatan dapur dari plastik, sampai odong-odong ada.

Sehabis jalan pagi, kami mencari sarapan pagi. Makan apa ya? Akhirnya kami pilih bubur ayam. Penjual bubur sudah kami kenal karena memang sering wara-wiri di kompleks perumahan kami. Kami juga sudah pernah beli bubur ayamnya untuk sarapan pagi, Rp 3.000 per porsi biasa. Maksud biasa adalah bubur, irisan daging ayam, kerupuk, bawang goreng, sambel. Bukan yang spesial seperti pakai telor atau ati ampela.

Setelah makan basa-basi kami tanya kepada penjual bubur yang sedang mencuci mangkok bubur, berapa Bang? "Dua belas ribu" katanya. Kami kaget, 2 porsi Rp 12.000. Tapi apa mau dikata, bubur sudah dimakan. Saat kami makan, tak ada orang lain yang makan. Harganya naik 100%. Keki, tapi apa mau dikata. Waktu kami bayar ke istrinya, istrinya tanya, "Bubur biasa atau spesial?" "Biasa, 2 porsi?" jawab penulis. Suaminya cepat-cepat bilang, "Dua belas ribu." Sang istri bengong. "Dua belas ribu" kata suaminya sekali lagi, cepat-cepat sang istri mengembalikan Rp 8.000 kepada kami.

Hal inilah yang membuat penulis lebih berhati-hati kalau mau makan. Sebisa mungkin makan di tempat yang di menunya tertera harga makanannya.

Penulis tahu, terkadang di lokasi tertentu, misal di bandara, cafe, atau tempat eksklusif lainnya harga barang bisa naik berkali-kali lipat. Sepenuhnya kami maklum, harga sewa tempat dan fasilitas yang disediakan (AC, musik, lampu, dll.) memang mahal.

Tapi di pinggir jalan dekat lapangan? Yang jualan bubur di sana pun bukan hanya dia seorang. Kami pernah makan bubur di penjual bubur lain di sekitar lapangan itu juga, harganya tidak lebih mahal daripada penjual bubur yang keliling di kompleks perumahan kami. Harganya sama dengan harga normal.

Jadi sebenarnya, hal ini bukan kesalahan kami semata, memang lagi apes saja. Kami merasa tidak perlu tanya karena penjualnya sudah kami kenal dan kami pun sudah pernah beli dagangannya.

Bagi Anda yang mau jajan makanan, ada baiknya bertanya dulu berapa harganya. Jangan malu atau gengsi meski datang bersama pacar Anda. Sampai sekarang pun kami masih melakukan hal sama kalau di daftar menu tak tertera harga. Kalau harganya mahal dan tak wajar? Pindah ke tempat lain saja, masih banyak penjual makanan yang lain. Daripada keki, gondok, menyesakkan dada, dan ngedumel setelah makan. Ya 'kan?

Jika Anda tanya, apakah penulis akan beli bubur itu lagi? Begini, kalau penulis lagi lapar sekali dan yang jual makanan di dunia ini hanya dia seorang, jawabnya: ya!

Malu bertanya, sesak di dada.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs