Seandainya Saya Jokowi-Ahok

Hmmm... mengkhayal tingkat tinggi. Sebenarnya terpikir pun tidak, lha... dipilih jadi ketua kelas pun penulis tidak mau. Tapi di kondisi negara yang memprihatinkan karena banyaknya kasus korupsi, tiba-tiba muncul nama pasangan gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta, Jokowi-Ahok, yang jauh berbeda dengan pemimpin yang selama ini ada, penulis jadi berandai-andai.

Andai saya Jokowi-Ahok. Apa yang akan penulis lakukan??? 

Mundur teratur. Itu yang penulis pilih. Mengapa?

Sepanjang yang penulis alami selama hidup, belum pernah menemukan pejabat sebaik mereka: dekat dengan rakyat (siapa pun bisa akses langsung ke mereka), kebijakannya pro-rakyat, tegas sesuai konstitusi, pemikirannya luar biasa (meski banyak yang bilang pikirannya biasa saja, tapi harus diakui, pemimpin sebelumnya banyak pencitraan, banyak gagasan tapi tak sesuai dengan praktiknya). Baru kali ini penulis melihat pemimpin yang berani mati membela rakyat, dan yang paling penting, tidak korupsi! Keduanya mendapat Bung Hatta Award untuk kejujurannya.

Mengapa jika penulis mundur teratur? Ibarat kita semua dalam sebuah kapal, ketika Jokowi-Ahok jadi pemimpin (sekarang pemimpin DKI, siapa tahu kelak pemimpin RI), yang tidak senang (baca: musuhnya luar biasa banyak). Mayoritas yang pro Jokowi-Ahok adalah rakyat (bukan para pejabat kita/ pemegang kekuasaan di pemerintahan, termasuk anggota dewan yang terhormat).

Ketika Jokowi-Ahok membereskan PKL di Tanah Abang yang semrawut, Ahok harus berhadapan dengan anggota dewan sampai preman secara langsung. Langkah yang diambil sudah benar (PKL berjualan di jalan dan menyebabkan kemacetan), tindakannya pun manusiawi (kasih kios gratis 6 bulan, dan bukan asal gusur dengan satpol PP yang main pukul), semua sesuai undang-undang, tapi mana dukungan pejabat, anggota dewan, hingga pengamat politik??? Kebanyakan tiarap, cari aman dan sebagian malah cari kesempatan dengan membelokkan masalah utama (penertiban) ke masalah yang tidak penting: omongan Ahok yang kasar dan lain-lain.

Ketika orang yang benar menjalankan undang-undang secara benar, kok malah ribut? Kemacetan di tanah Abang, bukan hanya terjadi sejak Jokowi-Ahok menjabat saja, tapi sudah puluhan tahun. Mengapa semua pihak selama ini diam saja? Tak ada yang berani??? Berada di pihak yang benar pun (menegakkan undang-undang) tidak ada yang berani menjalankannya? 

Lantas ketika tindakan ini diambil (yang kemungkinan akan berhasil baik), semua bukan membantu malah mencari-cari masalah?

Kalau sudah berurusan uang, semua memang bisa gelap mata. Selama ini "dapur ngebul" meski lewat jalur haram, tentu semua akan marah ketika akan dibersihkan. Pejabat korup tentu takut tertangkap korupsi dan marah besar "rezeki haramnya" diacak-acak. 

Pengusaha yang biasa mendapat proyek karena kolusi (bukan karena prestasi) juga akan marah besar. Intinya semua yang tidak beres, tentu akan marah jika ada orang yang ingin membuat semuanya teratur sesuai konstitusi.

Bayangkan saja Anda kerja di sebuah perusahaan yang serba leluasa. Datang telat tidak ditegur. Terima uang suap untuk meluluskan penawaran pihak swasta tidak ada yang mengganggu (karena saling menguntungkan). Kerja sesuka hati (jam kerja main ke mal, kendaraan dinas untuk keperluan pribadi, dan lain-lain), ketika ada pimpinan yang menjalankan peraturan yang ada, pasti Anda akan marah!

Ketika Jokowi meneruskan proyek monorail, yang lain sibuk berkomentar, itu sudah ada sejak pimpinan lama. Itu bukan gagasan Jokowi. Hahaha... Memang itu proyek lama, lha... mengapa proyek ini terbengkalai sekian lama?

Intinya, apa pun yang Jokowi-Ahok lakukan, selalu dinilai salah. Segala cara dicari untuk menjelekkan mereka berdua. Dari urusan SARA, cara bicara, blusukan dibilang pencitraan, tegas dibilang kasar, dan lain-lain.

Jokowi kerja keras untuk rakyat, gaji tidak diambil, baru setahun memimpin, ketika datang hujan besar masih banjir, banyak stasiun TV dan pejabat mengail di air keruh dengan mengangkat masalah ini: Jakarta masih banjir agar terlihat bahwa Jokowi-Ahok gagal.

Hahaha... Lucu dan logika berpikirnya sangat tidak logis. Penulis malah berpikir sebaliknya. Kalau hujan deras masih banjir setelah Jokowi-Ahok menjabat, penulis malah berpikir, andai pemimpin DKI jakarta bukan Jokowi-Ahok yang memimpin Jakarta, bisa jadi Jakarta sudah tenggelam!

Mengapa ramai-ramai menyalahkan Jokowi-Ahok??? Coba Anda lihat, begitu kerasnya usaha keduanya membersihkan sungai di Jakarta. Sampah di pintu air manggarai, sampah disungai dikeruk dan sampahnya langsung dibuang bukan ditimbun di pinggir sungai, sungai dibersihkan, waduk dikembalikan fungsinya sampai hari Minggu pun kadang masih kerja. Jokowi mengawasi langsung kerja bawahannya, bahkan sampai masuk ke gorong-gorong. Mana ada pejabat lain yang bekerja seperti ini??? 

Jika selama 1 tahun ini Jokowi-Ahok menjabat mereka tidak bekerja (hanya duduk di kantor sambil menunggu bawahan atau pengusaha kirim upeti, mereka berdua ikut membuang sampah ke sungai, mereka tidak membersihkan sampah dari sungai, tidak mengembalikan fungsi waduk yang dijadikan tempat tinggal, dan lain-lain), mari sama-sama kita caci maki Jokowi-Ahok!

Ahok yang begitu keras berjuang untuk rakyat, siap mati menegakkan konstitusi, juga sama. Selalu dicari-cari kesalahannya. Ketika Ahok menantang "Siapa berani memasang lembaran anggaran sampai lembar ketiga di situs pemprov-nya, siapa yang berani secara terbuka menantang KPK untuk memeriksa berapa hartanya, berapa pajak yang dibayarnya, apakah kekayaannya sesuai dengan penghasilannya" tidak ada yang menanggapi hal ini. 

Cuma berani mencari-cari kesalahan lain yang tidak penting. Sampai LSM semacam Fitra pun mencari-cari kesalahan dan ketika ditantang, diam tak menjawab. 

Balik ke judul posting ini "Seandainya Saya Jadi Jokowi-Ahok", apa yang akan penulis lakukan??? Ya itu tadi, mundur teratur!  Jalan sudah lurus, rakyat sudah dibela, kosnstitusi sudah ditegakkan, pejabat korup, preman yang kehilangan jatah, pengusaha hitam, semua bahu-membahu mencari-cari kesalahan dan sangat mungkin berusaha melenyapkan Jokowi-Ahok. Untuk apa saya menyia-nyiakan hidup ini seolah "berjuang sendiri" (rakyat mendukung tapi tak punya kuasa) dan harus siap membayar dengan nyawa!   

Ada anak istri menunggu di  rumah. Uang? Keduanya sudah mapan secara ekonomi. Wiraswasta ataupun kerja di perusahaan swasta pun pasti banyak yang akan menerima Jokowi-Ahok dengan gaji jauh di atas yang mereka terima selama ini. Untuk apa berjuang seperti ini???

Untungnya Jokowi-Ahok tidak seperti penulis yang egois memikirkan diri sendiri, mereka tetap bekerja meski tak digaji tapi banyak dicaci maki. Penulis hanya bisa berdoa, semoga Tuhan melindungi mereka berdua agar Indonesia jadi lebih baik.


NB: 
Ketika nama Jokowi menduduki sebagaian besar tempat teratas di berbagai survei calon presiden, segala cara dilakukan agar beliau tidak maju (calon lain yakin tak akan menang jika bersaing dengan Jokowi). Penulis yakin, jika beliau maju, lawannya akan kalah telak seperti kemenangan Jokowi di Solo pada periode kedua. Segala cara dicari untuk menjatuhkan beliau, salah satunya dengan mengatakan "Pemimpin yang baik harus menjalankan amanatnya, ia dipilih jadi gubernur DKI Jakarta untuk masa 5 tahun, selesaikan dulu." 

Hahaha... Kita semua sedang naik kapal, nahkoda-nya memang sudah ada. Andaikan saja Jokowi hanya ABK yang kebetulan dulu punya pengalaman sebagai nahkoda di kapal kecil, pemilihan nahkoda baru 1 bulan lagi, tugas Jokowi sebagai ABK untuk masa 5 tahun. Kini kapal akan tenggelam, kita biarkan saja cari orang lain untuk menahkodai kapal besar ini, meski ia tak punya pengalaman (biar ia penumpang biasa, tak punya pengalaman sebagai nahkoda, yang penting ia tidak sedang menjalankan amanatnya sebagai petugas di kapal yang terikat masa jabatan yang belum selesai)? Jika ya, marilah kita berdoa, semoga kapal ini tidak tenggelam.


Catatan penulis:
Jokowi-Ahok hanyalah manusia biasa. Penulis yakin, mereka pastilah memiliki kekeliruan/ kesalahan dalam menjalankan tugasnya. Tapi melihat apa yang telah mereka lakukan, penulis yakin mereka tulus. Jadi, jika ada kekeliruan dalam menjalankan tugas, itu lebih condong sebagai kekhilafan sebagai manusia. Penulis yakin itu bukan kesengajaan untuk mencari keuntungan pribadi. 

Tulisan ini hanya ungkapan pribadi seorang warga negara. Penulis bukan anggota PDIP atau Gerindra, juga bukan simpatisan, bukan pejabat publik, bukan warga DKI Jakarta, bukan saudara Jokowi-Ahok, bukan siapa-siapa. Hanya satu dari sekian juta warga negara yang begitu bersemangat melihat fakta ini, ternyata di bumi pertiwi ini, masih ada orang seperti mereka: antikorupsi, yang bekerja membela kepentingan rakyat bukan untuk kepentingan pribadi.    
0 Responses

Poskan Komentar

abcs