Sampah Dibuang ke Got, Ini Juga Siklus???

Pada artikel yang pernah penulis baca, jumlah air di bumi ini jumlahnya tetap. Hanya berputar dalam sisklus saja. Air hujan turun, masuk ke tanah jadi sumber air, dipompa ke atas tanah dan digunakan, mengalir ke saluran air, ke sungai, ke laut, terkena panas matahari, menguap, jadi awan, lalu mendung, dan hujan lagi. Begitu seterusnsya. Itulah siklus.

Siklus juga terjadi pada hal lain seperti mode pakaian, mode rambut, dan lain-lain (hanya dengan sedikit variasi/ perubahan).

Nah... saat mengantar anak ke sekolah, dalam perjalanan penulis sering melihat siklus lain yang dibuat manusia. Dalam perjalanan, penulis beberapa pemilik toko menyapu. 

Anda tahu ke mana kotoran itu dibuang? Kotoran tersebut tidak dimasukkan ke dalam kantong kresek tapi dimasukkan ke dalam got (saluran air). Meskipun sebagian besar got/ saluran air di depan toko ditutupi dengan beton (got dalam kondisi tertutup), namun tentu ada celah atau lubang ke saluran air. Salah satunya lubang untuk mengalirkan air hujan ke dalam got. Jika lubangnya kecil, dengan pegangan sapu mereka menusuk-nusuk kotoran tersebut agar masuk ke dalam got/ saluran air.

Hal ini terjadi di banyak tempat di sepanjang perjalanan. Coba Anda perhatikan lingkungan di sekitar Anda, apakah hal ini juga terjadi. Yang mengherankan, pelakunya bukan anak kecil yang tidak tahu, tapi orang dewasa yang tidak mau tahu.

Beberapa bulan sebelumnya daerah sekitar itu banjir (ada genangan air cukup tinggi akibat hujan deras, sehingga mereka harus kerja bakti atau membayar orang lain untuk membersihkan saluran air).

Ini peristiwa unik dan penulis lucu tingkah orang-orang seperti ini. Mereka membuat sampah ini menjadi siklus ala mereka sendiri. Ada sampah dibuang ke saluran air, setelah menumpuk cukup banyak dan menghambat saluran air sehingga terjadi banjir, nanti mereka akan membersihkan saluran air itu. Setelah bersih? Nanti mereka akan masukkan sampah lagi, begitu seterusnya.

Hal yang sangat sederhana, tentu terpikir bagi yang mau berikir. Tapi karena tidak mau tahu, ya biarkan sajalah siklus ini terus terjadi. Toh mereka sendiri yang mengalaminya. Lanjutkan Pak..., lanjutkan Bu...!
0 Responses

Poskan Komentar

abcs