Tradisional atau Modern, Anda Pilih Mana?

Antara tradisional dan modern, Anda pilih ke mana? Kalau Anda ditanya seperti itu, apa jawaban Anda?

Bagi penulis, soal apa dulu? Makanan tradisional seperti lemper dan kue nagasari yang dibungkus dengan daun pisang terasa lebih lezat daripada lemper dan nagasari yang dibungkus plastik.  Penulis pilih yang tradisional.

Tapi jika dihadapkan pada pengelolaan secara tradisional dan modern, penulis lebih sering memilih yang modern.

Belanja buah di pasar tradisional dan buah di pasar modern (swalayan), penulis lebih sering pilih pasar modern. Bukan untuk sok kaya atau tidak berpihak pada yang tradisional. Pengalaman sejak masa kecil (ikut ibu ke pasar) lalu dibanding dengan belanja di pasar modern (swalayan), penulis akhirnya memutuskan pilih belanja di pasar modern.


Lebih Jujur
Soal timbangan yang kurang mungkin sering juga Anda alami. Beli buah jeruk 1 kg, saat ditimbang dibilang 1 kg, tapi saat Anda timbang di rumah atau tempat lain, beratnya kurang dari 1 kg. Itu bukan masalah baru, masalah klasik.

Kadang harga yang ditawarkan tak terduga. Jika Anda tak hafal harga pasaran, jangan coba-coba belanja ke pedagang tradisional. Tawar kemurahan Anda bisa dimaki, tawar sedikit Anda dapat belanjaan dengan harga mahal. Anda lambat memilih, tangan pedagang dengan lincahnya mengambil yang kurang bagus lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik lalu menimbangnya. Kadang buah yang dijadikan tester dan yang dijual berbeda rasanya.

Di swalayan? Anda merasa mahal, tidak usah beli. Harga yang tertera sudah harga pas. Anda mau pilih buah atau barang lain selama yang Anda suka, tak ada yang komplain. Anda mau makan tester saja dan tidak beli, tidak masalah. Timbangan lebih akurat sampai satuan terkecil (gram) sekalipun. Sudah ditimbang dan diberi label harga pun, jika Anda merasa itu kemahalan, Anda bisa tinggalkan saja. Anda berani coba begini pada pedagang buah tradisional (sudah ditawar dan sepakat soal harga, Anda sudah pilih, sudah ditimbang, lalu Anda bilang tidak jadi)???


Beda Orang, Beda Harga
Bukan sekali dua kali beli makanan di pedagang makanan kaki lima (bubur, kupat tahu, nasi kuning, dan lain-lain), selalu dengan harga orang baru jika bukan beli di tempat biasa.

Istri penulis beli bubur dalam perjalanan ke kantor. Pembeli sebelumnya sudah dibungkuskan 2 porsi dan bayar Rp 7.000 (si penjual dengan gesitnya mengambil uang lalu menyimpan ke sakunya), tapi istri penulis melihat dengan jelas Rp 7.000 (uang kertas Rp 5.000 dan Rp 2.000).

Istri pesan 1 bungkus yang biasa (tanpa tambahan telur, hati ampela, dan lain-lain, hanya bubur, suwiran ayam, kerupuk yang memang sudah standar). Saat akan bayar, penulis iseng tanya, berapa bang? "Lima ribu..." jawab penjual bubur di jalan Cibaduyut itu. Rata-rata pedagang seperti itu tidak mau memajang daftar harga!


* * * * * * * * * * *

Penulis juga punya banyak pengalaman seperti ini. Waktu membeli nasi kuning di dalam kompleks, sudah biasa dan langganan, seporsi Rp 3.500. Waktu penulis pesan, seorang bapak baru selesai makan dan hendak membayar. "Berapa Bu?" tanya bapak itu. "Apa saja?" tanya ibu penjual nasi kuning. "Nasi kuning dan 1 bala-bala" jawabnya. "Lima ribu" jawab si ibu.

Penulis hanya bisa diam saja. Bala-bala (gorengan, termasuk tahu goreng, comro, tempe goreng, dan lain-lain) biasa dijual Rp 500 per buah. Seharusnya Rp 4.000, tapi karena memang si bapak itu bukan orang kompleks sini, dikasih harga spesial jadi Rp 5.000.


Matematika Korupsi

Entah jajan di sekitar lapangan olahraga di dekat rumah, dalam perjalanan, atau tempat lain, penulis sering mengalami hal ini (harga di luar harga biasa). Selesai makan, penulis sering naik darah karena harga makanan yang dinaikkan sesuka hati penjual.

Seminggu lalu, istri penulis melihat pedagang baso malang keliling. Cuaca hujan, si bapak penjual sedang berteduh di depan warung yang sudah tutup. Karena kasihan, istri penulis membeli baso malang. "Pak, harga gorengannya berapa, baksonya berapa?" "Gorengan (ada bakso goreng, siomay, pangsit,...) Rp 500, bakso besarnya Rp 3.500" kata bapak penjual. Memang harus tanya dulu agar tidak dibohongi. Kalau mahal, tak usah beli. Itu karena kami belajar dari pengalaman selama ini.

Istri penulis bilang, "Gorengannya 8, baksonya 4" dan penjual itu memasukkan pilihan istri penulis ke mangkuk yang kami bawa dari rumah.

Setelah selesai, istri bertanya "Pak, berapa semuanya?" Si penjual menjawab "Nggg... Dua puluh empat ribu... eh tiga puluh enam ribu." 

Istri penulis kaget. "Pak, 8 kali Rp 500 = Rp 4.000, 4 kali Rp 3.500 = Rp 14.000, Rp 4.000 tambah Rp 14.000 = Rp 18.000" kata istri penulis. Penjualnya hanya bilang "Oh ya... Rp 14.000" tanpa minta maaf (ini indikasi bukan salah hitung tapi sengaja).  Sepertinya itu trik yang biasa dilakukan. Kalau pembeli tidak komplain, pasti tertipu. Harga Rp 14.000 bisa jadi Rp 36.000 (2 kali lipat).

Jualan Berharap Belas Kasihan
Ada pedagang pot bunga keliling kompleks dengan pikulan. Penjualnya sudah tua, pantas disapa kakek. Sebenarnya tidak ada niat untuk membeli pot, tapi karena kasihan istri memanggil penjual pot lalu memilih salah satu dagangannya.

"Berapa" tanya istri penulis. "Dua belas ribu..." jawab kakek penjual bunga. Tanpa tawar, istri penulis lalu membayar dengan uang Rp 10.000 dan Rp 5.000. Si kakek menerima uang itu lalu memasukkan sakunya dan bersiap-siap membereskan dagangannya untuk pergi. Istri penulis bilang "Kek, uang saya Rp 15.000, uang kembaliannya belum." Mau tahu jawaban si kakek? "Oh... mau uang kembalian?" kata si kakek. 

   
* * * * * * * * * * *

Tapi rekan penulis bilang yang tradisional punya kelebihan: boleh hutang dulu dan kalau makan seperti di warteg, makan dulu baru bayar. Di rumah makan modern, bayar dulu baru makan. Kalau mau curang, di warteg lebih gampang, tinggal kurangi jumlah makanan yang kita makan. Hahaha... 

* * * * * * * * * * *

Cari uang memang makin sulit. Persaingan makin ketat. Menangkanlah persaingan itu dengan pelayanan yang baik, harga yang wajar, tidak curang (baik dari segi barang maupun perhitungan harga), itu cara terhormat.

Kesimpulan penulis:
  1. Jika ingin belanja, cari penjual yang memiliki daftar menu yang bertuliskan harga. Jika tidak ada, tanyakan dulu harganya.
  2. Jika ditanya soal harga, penjual berpikir sejenak baru menjawab, itu indikasi curang. Setiap hari ia jualan bubur, tapi saat ditanya berapa seporsi dia berpikir lama (harus saya naikkan jadi berapa ya buat orang ini)?
Dengan cara seperti itu pun penulis masih bisa tertipu. Waktu makan di jalan Malioboro, Yogyakarta, kami makan di pedagang kaki lima (lesehan). Penjual menyodorkan daftar menu sekaligus bon makanan (tertera harganya), nah kalau begini aman, pikir penulis. 

Setelah selesai makan, penulis siap bayar (penulis sudah tahu jumlah yang harus dibayar karena saat memesan pun penulis sudah kalkulasikan nasi berapa porsi, ayam berapa potong, pecel lele, dan lain-lain). Minum hanya air teh tawar yang umumnya gratis (di menu tak tertulis harga air teh tawar). 

Semuanya berapa Pak?  Penjual lalu menyebut totalnya, ternyata beda sepuluh ribu. Penulis minta bon-nya, ternyata sambal 1 pisin (piring kecil) untuk makan lalap, ternyata seporsi Rp 5.000 dan di meja kami diberi 2 porsi sambal.

Umumnya, air teh tawar, air kobokan, lalap, sambal, tisu, tusuk gigi = GRATIS. Bagaimana ingin dapat uang lebih dari  turis yang hanya makan sekali dan tidak dikenal ini, pikir pedagang. Sambal saja disuruh bayar.

Bolehlah trik-nya. Lain waktu mungkin air kobokan, tisu, dan tusuk gigi yang Anda ambil tapi tidak tertera di bon bisa jadi ditambahkan harganya pada bon makan Anda.

Ya, sambal 2 porsi di meja kami sebenarnya itu pelengkap untuk pecel lele 2 porsi (termasuk lalap) dan biasanya gratis. Lain halnya jika kami kuat makan sambal dan minta tambahan sambal, itu mungkin masuk akal jika dikenakan biaya sambal tambahan.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs